Pia Bernadet melengkapi kegagalan Tunggal Putri Indonesia
Oleh: Tomi Arifin
Langsung dari Kuala Lumpur
Pia Bernadet vs Zhang Biewen
(Bulutangkis.com) – Langsung tertinggal 10-1, adalah keadaan yang terjadi di awal-awal pertandingan Pia Bernadet melawan Zhang Biewen dari Singapura yang lolos dari babak kualifikasi. Anstisipasi bola-bola yang dikembalikan ke arah net Zhang Biewen tidak menghasilkan angka bagi Pia karena begitu cekatan Zhang di depan net untuk mengembalikan bola ke arah net Pia. Postur tubuh Zhang juga mendukung, karena dia lebih tinggi dan footwork yang sangat bagus.
Tidak tampak Pia melancarkan smash di paruh awal set pertama. Akhirnya dengan sekali smash ke arah backhand lawan, Pia menuai angka kedua. Namun setelah itu Zhang melaju bagaikan roket tanpa bisa dihentikan. Pia tampak tidak bisa mengembangkan permainan dengan bola bola variatif. Hanya dengan lob-lob serang dan sesekali net, Pia tidak mampu walau hanya sekedar untuk memberikan perlawanan atau memberikan sedikit kesulitan bagi Zhang Biewen. Pia kalah telak 21-8.
Di set kedua ini, Pia terlihat mulai bisa mengimbangi lawan. Namun Zhang tidak tinggal diam. Mengetahui postur tubuh Pia yang tidak terlalu tinggi membuat Pia sendiri kewalahan untuk mengembalikan bola apalagi untuk bisa menyerang balik. Inilah letak kelemahan Pia. Dia pun tertinggal 11-8.
Banyak sekali bola-bola keluar dari Pia dan menyangkut di net yang membuat Zhang memanen angka dari kesalahan Pia sendiri. Pia banyak memberikan bola-bola lob yang malahan jadi sasaran empuk Zhang, dan apabila mencoba untuk bermain net masih ada harapan untuk mengejar.
Menurut Pia, saat ditemui tim dari Bulutangkis.com dan MBI faktor liburan panjang dan sempat dipulangkannya beberapa pemain ketika terjadi vacuum di PBSI membuat dirinya tidak melakukan latihan yang terkontrol untuk menjaga kondisi permainannya. Menurutnya apabila di dalam kondisi fit, ia yakin bisa mengalahkan Zhang Biewen dan memupuk niat untuk membalas kekalahannya kali ini. Sukses Pia.
Tim Peliput MBI : Tomi Arifin, Robert Halim, Fendy Yuanto dan Riyaldi Syaldi.
(www.bulutangkis.com)